Selamat Datang! | Welcome!

DALAM WAKTU YANG SEMAKIN MENDESAK UNTUK TRANSFORMASI MIMPI, DIMANA RUANG-RUANG HIDUP SUDAH SEDIKIT TERSISA UNTUK KAMI MENGKREASIKAN MIMPI. DIMANA RUANG-RUANG HIDUP BUKAN LAGI BEBAS BERBICARA TENTANG MIMPI SETIAP INDIVIDU, BEBAS MEMILIH JALAN BUDAYA-PERADABAN UNTUK SETIAP KOMUNI, NAMUN SUDAH PENUH DENGAN MIMPI-MIMPI MASSAL DAN JALAN HIDUP BUDAYA-PERADABAN MASSAL DALAM BINGKAI PERBUDAKAN MANUSIA.

IDEOLOGI, PEMERINTAHAN, PASAR, KORPORASI, STRUKTUR HIDUP DALAM SEJARAH TERCIPTA MASIH BELUM MAMPU MEMBEBASKAN MANUSIA DI ATAS ALAM YANG NETRAL INI, MAKA UPAYA-UPAYA UNTUK MENCIPTAKAN RUANG-RUANG BEBAS DI ATAS ALAM INI ADALAH UPAYA PEMBEBASAN INDIVIDU MANUSIA.

INDIVIDU BUKANLAH APA YANG IA PAKAI, APA YANG IA KENDARAI, APA YANG IA PERCAYAI. INDIVIDU BUKANLAH SETIAP MASALAH-MASALAH YANG MELEKAT PADA DIRINYA, LABEL-LABEL YANG DIBERIKAN KELUARGA DAN LINGKUNGANNYA. INDIVIDU ADALAH ENERGI INDEPENDEN DALAM KETAKDEFINISIAN YANG MAMPU MEMBERIKAN API KEHIDUPAN KEPADA ALAM, DIMANA ENERGI TERSEBUT JUGA BERASAL DARI API KEHIDUPAN ALAM DAN INI DINAMAI DENGAN SPIRIT.

MAKA PEMBEBASAN SPIRIT AKAN MEMBEBASKAN DUNIA, ADALAH VITAL UNTUK MENGHANCURKAN RUANG-RUANG YANG MENDESAK. PERANG TERHADAP MANIPULASI INFORMASI, HARAPAN-HARAPAN PALSU, DAN SEGALA STRUKTUR YANG MELEMAHKAN INDIVIDU DAN MEMBANGUN KEMBALI RUANG-RUANG BEBAS DI ATAS KEHANCURANNYA SAMBIL MEMELIHARA DAN MENGEMBANGKAN RUANG-RUANG BEBAS YANG SUDAH TERCIPTA.

SUDAH SAATNYA BEBASKAN SPIRITMU MAKA KAMU MEMBEBASKAN DUNIAMU! ANGKAT BERPERANG KARENA INI ADALAH MEDAN PERTEMPURAN & PERTARUNGAN SPIRITUALITAS!


FREE SPIRIT-FREE WORLD
AQUARIAN
aquarian.free@gmail.com

Kunjungi Pustaka Online Aquarian

QUOTES FOR LIFE TRANSFORMATION

Rabu, 10 Juni 2009

PENGARUH KUALITAS AUDIT, KONDISI KEUANGAN PERUSAHAAN, OPINI AUDIT TAHUN SEBELUMNYA, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN TERHADAP OPINI AUDIT GOING CONCERN

Eko Budi Setyarno 
Indira Januarti 
Faisal 

UNIVERSITAS DIPONEGORO


Abstract 

In this study, we attempt empirically to investigate the relationship between audit quality, financial condition, previous audit report and sales growth on going concern audit opinion would receive a going concern opinion. A samples of 59 manufacturing companies listed at Jakarta Stock Exchange from 2000-2004. Logistic regression is used to examine hypothesis. 

The results indicate that financial condition (Altman Z-Score) and previous audit report are significantly affect the going concern audit opinion. On the other hand, audit quality and sales growth does not have effect on going concern audit opinion. 

Keywords: audit quality, financial condition, previous audit report, sales growth, going concern audit opinion.


Format PDF; Size 492.56 KB

DOWNLOAD HERE!

PENGARUH INTERAKSI GENDER, KOMPLEKSITAS TUGAS DAN PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP AUDIT JUDGMENT

(Sebuah Kajian Eksperimental Dalam Audit Saldo Akun Persediaan)


DRA. ZULAIKHA, MSI
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DIPONEGORO


Abstract 

This study examines the gender issues in Indonesian society whether there are differences between women and men in domsetic roles; with relation to gender issues whether males perform better than female in complexity audit tasks; and the effects of gender, task complexity, and experience on the accuracy of audit judgments. This study used experimental design method to collect data to test the hypothesis. There were 75 participants from alumni graduated major in accounting who are studying in the post graduate programs. Data were analyzed by descriptive statistics, t-test, and ancova. Participants were required to judge gender issues, and an inventory balance was fairly presented base on case material that contained a material misstatement in the inventory account balance. The results support the gender issues, and the effect of gender and experience interaction on the accuracy of audit judgment. In other hand, the effects of gender and task complexity interaction are not supported and there is no difference between male and females in performing audit judgment in complexity audit tasks.

Key words : gender, complexity task, experience, judgment.
Format PDF; Size 444.40 KB

MANA YANG LEBIH MEMILIKI VALUERELEVANT: NET INCOME ATAU CASH FLOWS

(Studi Terhadap Siklus Hidup Organisasi)


Juniarti
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Petra
E-mail: yunie@petra.ac.id

Rini Limanjaya
Alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi-Universitas Kristen Petra



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji manakah yang lebih memiliki value-relevant pengukuran laba atau arus kas pada masing-masing siklus hidup perusahaan. Siklus hidup perusahaan umumnya terbagi dalam tahap start-up, growth, mature dan decline. Karakteristik perusahaan berbeda untuk setiap tahap siklus hidup tersebut, karena itu kegunaan pengukuran akuntansi juga akan berbeda. Laba diperkirakan lebih memiliki value-relevant pada tahap mature, sementara arus kas diekspektasikan lebih memiliki value-relevant ketika perusahaan berada pada tahap start-up, growth dan decline. Penelitian ini membuktikan bahwa pada tahap growth, hasil pengujian yang dilakukan mendukung hipotesis bahwa cash flow lebih memiliki value relevant dibanding laba. Tetapi, untuk tahap mature, hipotesis yang diajukan tidak berhasil dibuktikan. Penelitian ini tidak dapat melakukan pengujian untuk tahap start-up dan decline, dikarenakan data sampel untuk kedua tahap tersebut tidak mencukupi untuk dilakukan pengujian.

Kata kunci: siklus hidup organisasi, value-relevant, laba, arus kas.

***

Abstract


This research is aimed to examine the relative value-relevant of net income and cash flow measures in different life cycle stages. Corporate life cycle consists of four stages: start up, growth, mature, and decline stage. Firms in different life cycle stages have different characteristics, and therefore in each life cycle stages the usefulness of accounting measures also different. Net incomes are predicted to be more value relevant in mature stages, while cash flows are expected to be more value relevant in stages characterized by start up, growth, and decline stages. The results prove that in the growth stage, the analysis supports the hypothesis that cash flows are more value relevant than net income. However, in the mature stage, the analysis results reject the hypothesis. This research do not analyze for the start up stage and decline stage, because of the limitation of the sample data.

Keywords: organizational life cycle, value-relevant, net income, cash flows.
Format PDF; Size 277.03 KB

KOORDINASI KEBIJAKAN MONETER DAN FISKAL DI INDONESIA: SUATU KAJIAN DENGAN PENDEKATAN GAME THEORY

Iskandar Simorangkir


A b s t r a k


Perdebatan hubungan kebijakan moneter dan fiskal terkait dengan dampak defisit anggaran yang dapat mengganggu inflasi yang merupakan tujuan akhir kebijakan moneter. Sebaliknya, bagi pembuat kebijakan fiskal inflasi yang terlalu ketat dapat berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang merupakan tujuan utama dari kebijakan fiskal. Tidak terdapatnya koordinasi diantara kedua kebijakan tersebut dapat berdampak terhadap stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi.

Paper ini akan membahas koordinasi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia dari tahun 1969 hingga tahun 2002 dengan menggunakan pendekatan game teori baik berupa cooperative dan noncooperative game. Beberapa kerangka permainan akan disimulasikan dengan model ekonometrik dengan waktu yang kontinu. Pembuat kebijakan moneter dan fiskal diasumsikan mempunyai fungsi tujuan yang berbeda. Dalam mencapai tujuan tersebut, mereka dapat bekerjasama atau tidak. Hasil simulasi menunjukkan bahwa cooperative game memberikan hasil kerugian terkecil (lost function) dibandingkan dengan non-cooperative game.

Keywords: Game Theory, Koordinasi, Kebijakan moneter dan fiskal


Format PDF; Size 174.13 KB

DOWNLOAD HERE!

KOMITMEN DALAM HUBUNGAN AUDITOR DAN KLIEN: ANTESEDEN DAN KONSEKUENSI

DWI RATMONO
YOGI HENDRO PRABOWO
 
UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG


Abstract

The objectives of this study are to examine for existence antecedents of commitment in auditor-client relationship as well as existence consequences of it. Prior research has recognized that the construct commitment plays a central role in business relationship. This study develops a conceptual model that can be used to investigate what motivates clients to continue their relationship with audit firm. One hundred and five questionnaires were received from clients, which is a response rate of 42%. Partially Least Squares (PLS) were utilized to test the conceptual model. The results provide empirical evidence that interdependence is an antecedent of commitment. It is also sown that affective commitment plays an important role in auditor-client relationships.

Key words: affective commitment, accounting firms, client, interdependence, continuance intentions.


Format PDF; Size 469.81 KB

DOWNLOAD HERE!

HUBUNGAN ANTARA RISIKO MANIPULASI EARNINGS DAN RISIKO CORPORATE GOVERNANCE DENGAN PERENCANAAN AUDIT

(Studi Empiris pada Auditor Se-Jawa)


Nurna Aziza 
Universitas Bengkulu 
H. Mohamad Nasir 
Universitas Diponegoro Semarang 
Daljono 
Universitas Diponegoro Semarang


ABSTRACT

The purposes of this study are to examine the relationship of earnings manipulation risk and corporate governance risk with auditors’ planning. These topics are rarely examined. The results of this research contribute for theory development, particularly for auditing and behavioral accounting; for auditor when make planning audit practice; and for organization’s (input) in decision making about rule that will be applied by its members.

The population in this study are auditors working in KAP (audit firm) in Java island. Questionnaires were sent to 613 members, with purposive sampling method. The response rate of the samples just 10.28 % (63/613*100%) was analyzed using regression method.

The result show that earnings manipulation risk, corporate governance risk, and interaction of earnings manipulation risk, corporate governance risk, and auditors’ planning not associated with audit planned . The future research is suggested to examine other variables, including: size and culture of audit firm, experience, and auditor knowledge on client.

Keywords: Earnings manipulation, earnings management, corporate governance, auditors’ planning and risk.
Format PDF; Size 425.23 KB

Evaluasi Manajemen KAPdalam Keputusan Penerimaan Klien berdasarkan Pertimbangan dari Risiko Klien, Audit dan Bisnis

LUDOVICUS SENSI WONDABIO 
Program Doktoral – Program Ilmu Akuntansi 
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 


ABSTRACT

The objective of this research is to understand the risk management factors which should be performed by the accounting firm in the process of client acceptance decision by considering of 3 risks factors: Client Risk, Audit Risk and Auditor’s Business Risk. The client risk was determined by management integrity valuation and client’s business risk, meanwhile, the audit risk was determined by the nature of the audit engagement, related parties transactions, client’s prior knowledge and experiences, and also from the deep understanding of auditors in regards to the error and fraud which is possible performed by the client. Furthermore, auditor’s business risk was determined by considering whether the client’s profiles is a public company, regulated industry or high profile company. In order to enhance this research, this paper also discusses how the audit fee and the role of specialist will impact to client’s acceptance decision. In conducting the model testing, this research was performed through a field of empirical testing in one of the accounting firm ( rchival data).

Key words : client acceptance, audit risk, auditor’s business risk, error and fraud risk, oing public, audit fee recovery, risk management.

Data availability: Data used in this reasearch are derived from a proprietary database. 


Format PDF; Size 546.82 KB

Sabtu, 06 Juni 2009

FINANCIAL VALUE ADDED: SUATU PARADIGMA DALAM PENGUKURAN KINERJA DAN NILAI TAMBAH PERUSAHAAN

Rr. Iramani
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya
E-mail: irma_subagyo@yahoo.com

Erie Febrian
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran


ABSTRAK

Salah satu konsep penilaian kinerja keuangan yang sudah mulai banyak ditelaah adalah Economic Value Added (EVA). Sedangkan Konsep nilai tambah perusahaan yang belum banyak dikaji Financial Value Added (FVA). Paper ini akan menjelaskan secara detail bagaimana mengukur kinerja dan nilai tambah perusahaan berdasarkan FVA yang dikaitkan dengan keputusan-keputusan dalam majemen keuangan. Namun sebelumnya akan dijelaskan pengukuran dengan menggunakan rasio keuangan dan EVA.

Kata kunci: financial ratio, economic value added, financial value added.

***

ABSTRACT

One of alternative concept for measuring financial performance is Economic Value Added (EVA). Beside that a value added-based approach that has not regularly been studied empirically is that using Financial Value Added (FVA). This paper tries to explain in detail how to measure business performance and value added based on FVA related to financial management decisions.

Keywords: financial ratio, economic value added, financial value added
Format PDF; Size 206.60 KB

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Nasabah Menggunakan Internet Banking dengan Menggunakan Kerangka Technology Acceptance Model (TAM)

Sri Maharsi
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, Surabaya
Email: essy@peter.petra.ac.id

Yuliani Mulyadi
Alumni Universitas Kristen Petra Surabaya


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan internet banking oleh penggunanya dengan menggunakan TAM ini adalah untuk memberikan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan internet banking oleh penggunanya dan dapat menjadi masukan bagi pihak manajemen bank untuk mengevaluasi penggunaan internet banking. Kuesioner dibatasi pada pengguna internet banking di 8 bank yang berada di Surabaya yang menyediakan layanan internet banking. Penelitian ini membuktikan bahwa faktor yang mempengaruhi minat menggunakan internet banking adalah Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, dan Perceived Credibility. Faktor Computer Self Efficacy juga berpengaruh pada minat menggunakan internet banking secara tidak langsung melalui Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, dan Perceived Credibility.

Kata kunci: behavioral intention, computer self efficacy, perceived usefulness, perceived ease of use, and perceived credibility

***

ABSTRACT

In The usefulness of this research was to know the factors that influence the intention to use internet banking by the users by using TAM framework was to give information about the factors that influence the intention to use internet banking acceptance by the users and to give advise to the bank management to evaluate the use of internet banking. Questionnaire in this research was limited only to the internet banking users in 8 banks in Surabaya that have internet banking facilities. This research proved that the factors that influence the intention to use the internet banking is Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and Perceived Credibility. Computer Self Efficacy also influence the intention to use the internet banking but indirect by through Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and Perceived Credibility.

Keywords: behavioral intention, computer self efficacy, perceived usefulness, perceived ease of use, and perceived credibility.
Format PDF; Size 298.97 KB

PENELITIAN POTENSI, PREFERENSI DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP BANK SYARIAH DI WILAYAH JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

KERJASAMA BI DENGAN LEMBAGA PENELITIAN UNDIP

Bank syariah akan dapat berkembang dengan baik bila mengacu pada demand masyarakat akan produk dan jasa bank syariah. Dengan modal UU dan nilai-nilai moral, perbankan syariah harus mampu membuktikan bahwa keberadaannya dapat melayani kebutuhan masyarakat baik dari sisi surplus pending unit maupun dificit spending unit. Walaupun pengembangan bank syariah secara intensif masih relatif baru (± dua tahun terhitung dari diberlakukannya UU Nomor 10 Tahun 1998), patut diingat bahwa pengembangannya tidak berlandaskan infant industries argument, yang berlandaskan proteksi dan keistimewaan-keistimewaan. Sehingga pembedaan pengaturan perbankan syariah dengan konvensional bukan disebabkan perbankan syariah yang masih infant, tetapi karena by its nature memang perbankan syariah beroperasi dengan sistem yang berbeda dengan perbankan konvensional. Sebaliknya Bank Indonesia juga tidak meberlakukan bank syariah sebagai step child seperti yang terjadi di beberapa negara yang mengembangkan bank syariah dimana bank syariah dapat beroperasi, namun bank sentral tidak menyiapkan perangkat ketentuan yang memungkinkan bank syariah dapat beroperasi secara optimal.

Perkembangan perbankan syariah hingga saat ini masih kurang menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan, baik jaringan maupun volume usaha, dibandingkan dengan pertumbuhan bank konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah bank syariah yang masih kecil. Secara umum per Juli 2000, di seluruh Indonesia terdapat 161 bank umum dengan jumlah kantor sebanyak 6.624 buah, dan terdapat 2.427 BPR, dengan jumlah total asset sebesar Rp. 970 triliun, kredit yang disalurkan sebesar Rp. 279,2 triliun dan dana masyarakat.yang dihimpun Rp. 682,5 triliun. Dari seluruh perbankan nasional tersebut sampai dengan saat ini terdapat dua bank umum syariah (yaitu Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri), tiga bank umum yang membuka kantor bank syariah (yaitu Bank IFI dengan satu kantor cabang syariah, Bank BNI dengan lima kantor cabang syariah, dan Bank Jabar dengan satu kantor cabang syariah) serta 79 BPR Syariah.

Banyak tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perbankan syariah terutama di Indonesia . Permasalahan yang muncul antara lain adalah rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap perbankan syariah terutama yang disebabkan dominasi perbankan konvensional. Berikut ini dikemukakan beberapa kendala yang muncul sehubungan dengan pengembangan perbankan syariah (Subardjo dalam Antonio,1999):

1. Pemahaman masyarakat yang belum tepat terhadap kegiatan operasional bank syariah.
2. Peraturan perbankan yang berlaku belum sepenuhnya mengakomodasi operasional bank syariah.
3. Jaringan kantor bank syariah yang belum luas.
4. Sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam bank syariah masih sedikit.

Kebijakan pengembangan perbankan syariah antara lain adalah mendukung pengembangan jaringan perbankan syariah, khususnya pada wilayah-wilayah yang dinilai potensial. Dalam rangka mendukung program pengembangan jaringan perbankan syariah diperlukan data dan informasi yang lengkap dan akurat yang menggambarkan potensi pengembangan bank syariah baik dari sisi penyimpan maupun sisi pembiayaan. Potensi dimaksud dapat dipandang dari sumber daya dan aktivitas perekonomian suatu wilayah serta dari pola sikap/preferensi dari pelaku ekonomi terhadap produk dan jasa bank syariah.

Dalam rangka mengembangkan jaringan perbankan syariah diperlukan upaya-upaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk, mekanisme, sistem dan seluk beluk perbankan syariah karena perkembangan jaringan perbankan syariah akan tergantung pada besarnya demand masyarakat terhadap sistem perbankan ini. Oleh karena itu, agar kegiatan sosialisasi dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah efektif diperlukan informasi mengenai karakteristik dan perilaku nasabah/calon nasabah terhadap perbankan syariah.

Penelitian yang bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat mengenai hal-hal tersebut diperlukan sejalan dengan keinginan agar penyusunan kebijakan Bank Indonesia didasarkan pada hasil penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan (research-based policy making).

Format PDF; Size 183.88 KB

Bank Syariah: Potensi, Prefensi & Perilaku Masyarakat di Wilayah Jawa Barat

TIM PENELITI LEMBAGA PENELITIAN IPB:

Dr. Anny Ratnawati (Ketua Tim)
Dr Asep Saefuddin – Dr Widiyanto Dwi Surya
Dr. Sumardjo – Ir. Hari Wijayanto, MS
Ir. I Made Sumertajaya, MS – Sumedi, SP
Debra Murniati, SP


Sejarah berdirinya perbankan dengan sistem bagi hasil, didasarkan pada dua alasan utama yaitu (1) adanya pandangan bahwa bunga (interest) pada bank konvensional hukumnya haram karena termasuk dalam kategori riba yang dilarang dalam agama, bukan saja pada agama Islam tetapi juga oleh agama samawi lainnya, (2) dari aspek ekonomi, penyerahan resiko usaha terhadap salah satu pihak dinilai melanggar norma keadilan. Dalam jangka panjang sistem perbankan konvensional akan menyebabkan penumpukan kekayaan pada segelintir orang yang memiliki kapital besar (Sjahdeini, S. Remy, 1999).

Kelahiran bank syariah di Indonesia didorong oleh keinginan masyarakat Indonesia (terutama masyarakat Islam) yang berpandangan bunga merupakan hal yang haram. Walaupun demikian, sebenarnya prinsip bagi hasil dalam lembaga keuangan telah dikenal luas baik di negara Islam maupun non Islam. Jadi bank syariah tidak berkaitan dengan kegiatan ritual keagamaan (Islam) tapi lebih merupakan konsep pembagian hasil usaha antara pemilik modal dengan pihak pengelola modal. Dengan demikian pengelolaan bank dengan prinsip syariah dapat diakses dan dikelola oleh seluruh masyarakat yang berminat tidak terbatas pada masyarakat Islam, walaupun tidak dipungkiri sampai saat ini bank syariah di Indonesia baru berkembang pada kalangan masyarakat Islam. Dilihat dari aspek ini, peluang pengembangan bank syariah di Indonesia cukup besar, karena Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk muslim paling besar.

Dari aspek hukum, yang mendasari perkembangan bank syariah di Indonesia adalah UU No 7 Tahun 1992. Dalam UU tersebut prinsip syariah masih samar, yang dinyatakan sebagai prinsip bagi hasil. Prinsip perbankan syariah secara tegas baru dinyatakan dalam UU No 10 Tahun 1998. Namun demikian dalam pengembangan bank syariah tidak dapat hanya berlandaskan pada aspek legalitas melalui keberadaan UU dan keunggulan nilai-nilai moral semata yang diaplikasikan dalam operasi perbankan syariah, namun juga harus berdasarkan pada market driven. Bank syariah dapat berkembang dengan baik bila mengacu pada demand masyarakat akan produk dan jasa bank syariah. Walaupun pengembangan bank syariah secara intensif masih relatif baru, pengembangannya tidak berlandaskan infant industries argument yang berdasarkan proteksi dan keistimewaan-keistimewaan. Pembedaan pengaturan lebih disebabkan karena memang perbankan syariah beroperasi dengan sistem yang berbeda dengan perbankan konvensional.

Format PDF; Size 108.49 KB

Get Your TAROT Reading